About

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 03 Mei 2012

si "Einstein" dari Indonesia


Boleh jadi ia menghayati betul "ilmu padi". Pria kelahiran Jakarta, 6 November 1963, ini selalu cool dan rendah hati. Padahal, ia tak ubahnya Einstein kelahiran Indonesia.


Suaranya tipis, susunan kata-katanya selalu runtut. Ditambah kacamata minus dan tubuh tinggi semampai, Yohanes Surya Ph.D. begitu pas dengan predikatnya sebagai ilmuwan kawakan di negeri ini. Yo - begitu dia biasa disapa - jelas bukan sembarang orang. Gelar S1 Fisika diperolehnya dari FMIPA UI dengan predikat sangat memuaskan. Di usia 27 tahun, dia sudah meraih M.Sc. Fisika di College of William and Mary, Virginia, AS. Empat tahun kemudian, gelar Ph.D. direngkuhnya dari kampus yang sama. Hebatnya, dua gelar itu diembel-embeli predikat cum laude!
Tak kalah fenomenal, kiprahnya sebagai lokomotif Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Dua tahun terakhir, prestasi TOFI sedang meroket. Di Bali, Juli 2002, pada Olimpiade Fisika Internasional XXXIII TOFI menyabet tiga emas (dari total 20 yang diperebutkan), satu perak, dan satu perunggu. Sedangkan di Olimpiade Fisika Asia ke-4 di Bangkok, April 2003, mereka menyabet enam emas dan dua honorable mention, sekaligus "merampok" gelar juara umum!
Lucunya, Yo sebenarnya masuk Jurusan Fisika karena terpaksa. "Saat itu enggak ada pilihan lain," kata blasteran ayah Bandung dan ibu Ciamis ini.
Gairah turun naik
Ceritanya, selepas SMA kondisi ekonomi keluarga Yo sangat memprihatinkan. Ayahnya yang pensiunan tentara cuma punya warung kecil di Pulo kambing, Jakarta Timur. Tak heran enam kakaknya terpaksa tidak kuliah. Yo sendiri (anak ketujuh dari sembilan bersaudara) bisa kuliah melalui jalur PMDK. Meski begitu, batin Yo muda belum sepenuhnya gembira.
Bapaknya bilang, sarjana fisika paling banter cuma bisa jadi dosen atau guru. "Saya dari keluarga miskin. Kalau akhirnya jadi miskin juga, 'kan enggak ada perubahan," kenang Yo getir. Susahnya, tak ada pilihan lain. Akhirnya, dibantu bea-siswa Supersemar, jadilah ia mahasiswa UI.
Selama kuliah, gairah belajar Yo agak kempes. "Habisnya, dari tahun ke tahun, saya cuma ketemu rumus-rumus," imbuhnya diiringi tawa renyah. Padahal, waktu di SMAN 12, pelajaran fisika menjadi cinta pertamanya. "Pak Handoyo (mantan guru fisika Yo, kini almarhum - Itox.) pintar menghubungkan berbagai gejala fisika dengan kejadian sehari-hari," kenang suami Christina (34) serta ayah Chrisanthy Rebecca (12) dan Marie Felicia (4) ini.
Walaupun masa SMA lebih manis ketimbang jadi anak kampus, ia tetap lulus UI dengan predikat "sangat memuaskan". Sempat menjadi guru SMA selama dua tahun, pada 1988 Yo mendapat beasiswa S2 di College of William & Mary.
Di kampus baru ini, minat fisikanya mekar kembali. Kesempatan untuk mempelajari intisari fisika, meneliti, dan membaca banyak buku dimanfaatkan maksimal. Beberapa bulan kuliah, ia sudah dipekerjakan sebagai teaching assistant. "Lumayan, saya jadi punya meja," ucapnya riang. Di negeri Paman Sam, ia juga sempat menjadi konsultan theoretical physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam Accelerator Facility), Virginia.
Di College of William & Mary pula, sekitar 1992, ia membaca berita soal Olimpiade Fisika Internasional. "Kok Indonesia belum pernah ikut, ya, padahal kegiatan itu sudah ada sejak 1967," batinnya bertanya. Segera Yo mengajak rekannya, Agus Ananda membidani kelahiran Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Setelah diadakan seleksi di UI, terpilih lima siswa yang akan di-training selama dua bulan di AS.
Pada keikutsertaan pertama ini, kebetulan diselenggarakan di AS, tim darurat bikinan Yo meraih satu perunggu. "Lumayan. Langsung dapat medali," bilang penulis 68 buku (30 diantaranya sudah diterbitkan). Sayang, pada tahun berikutnya di Cina, bertepatan dengan kesibukan Yo mengerjakan tesis, Tim Indonesia pulang tanpa membawa satu medali pun.
November 1994, Yo mendapat greencard untuk tinggal dan bekerja di Amerika. Namun, mimpi mengharumkan nama bangsa lewat fisika terus menggoda. "Saya merasa sangat terpanggil," ujarnya serius. Tahun 1998 ia balik ke Tanah Air. "Sempat jadi calon PNS, yang gajinya Rp 65.000,- sebulan. Buat taksi sekali jalan, dari rumah di Bekasi ke Salemba dan Depok saja udah habis," kenang lelaki yang kini tinggal di Lippo Karawaci, Tangerang itu.
Meski menghadapi tantangan berat, kiprah Yo pantang surut. Pada Olimpiade Fisika Internasional 1995 di Australia, anak-anak asuhnya mempersembahkan satu perak. Pria yang mengaku menghabiskan Rp 40 juta per tahun untuk membeli buku ini pun mulai yakin, datangnya medali emas cuma soal waktu. Penyuka buku-buku fisika, ekonomi, sosial, kependudukan, dan fiksi ilmiah ini juga mulai rajin menggugah kepedulian Depdiknas.
Toh hingga Olimpiade 1996 di Kanada dan 1997 di Norwegia, TOFI masih berkutat pada raihan perak dan perunggu. Sedangkan 1998, aktivitas terhenti sama sekali lantaran kerusuhan Mei yang meluluhlantakkan Jakarta. "Banyak orang mulai mengejek, emasnya mana?" sambung Yo lirih. Tahun 1999, ia mulai gemas, menantang Depdiknas membiayai training anak-anak asuhnya selama tujuh bulan penuh.
Hasilnya luar biasa, TOFI pulang menggondol satu emas, satu perak, dan dua perunggu.
Sejak itu, prestasi TOFI kian bersinar. Puncaknya, seperti disebut di muka tadi. "Di Asia, kita berhasil menggeser Taiwan. Merekalah selama ini saingan berat kita," papar Yo bangga.
Bapak fisika Indonesia ?
Yo adalah fisika. Begitu pasti komentar mereka yang dekat dengan kolumnis di sejumlah media massa ini. Maklum, hampir seluruh umur dosen Universitas Pelita Harapan, Karawaci, ini didedikasikan buat ilmu fisika. Selain memotivasi masyarakat umum lewat media, Yo juga menulis berbagai buku ringan untuk murid SD, SMP, dan SMU. Agar fisika tak lagi dipandang sebagai zombie yang menakutkan. "Mereka tak hanya mempelajari, tapi juga menikmati rumus-rumus," sambung pengurus Himpunan Fisika Indonesia (HFI) ini.
Ia bahkan sudah mempersiapkan sistem baku untuk menggembleng calon fisikawan masa depan. "Siapa pun kelak yang menggantikan saya, TOFI akan tetap mendapat emas," janjinya penuh semangat. Konon, buku pegangan training untuk peserta olimpiade fisika itu disiapkan selama 10 tahun. "Soal-soalnya selevel dengan apa yang dipelajari di program S2," imbuh Yo.
Anggota Dewan Kurator Museum Iptek TMII ini juga giat memperkaya pengetahuan fisikanya. Kini ia tengah gandrung pada Fisika Keuangan, yang menghubungkan fisika dengan ilmu ekonomi. Ilmu ini baru berkembang tahun 1994. "Saya sendiri mulai tertarik sejak 2001," tegas Yo. Salah satu manfaat yang ia temukan adalah rumus-rumus untuk memprediksi fluktuasi harga saham, sekaligus memprakirakan trend pasar modal.
Konon, banyak yang bisa diotak-atik dari rumus-rumus fisika. "Misalnya, formula Black & Scholes yang banyak digunakan dalam ilmu ekonomi, ternyata sama dengan rumus perpindahan aliran panas di fisika," jelas Ketua Panitia Olimpiade Fisika Asia I tahun 2000 di Karawaci ini. Masih kata Yo, sejatinya ilmu ekonomi memang banyak menggunakan rumus fisika. Tapi para ekonom banyak yang enggak tahu dari mana asal rumus itu.
Ilmu Fisika juga bisa diaplikasikan pada ilmu sosial. "Air yang dipanaskan, tekanannya meninggi. Pada saat itulah air berada pada kondisi kritis. Kalau suhunya dinaikkan sedikit saja, langsung jadi gas yang ringan sekali. Massa jenisnya mungkin hanya sekitar 0,01. Tapi diturunkan sedikit, menjadi air yang massa jenisnya jauh lebih besar. Jika digrafikkan, akan ketemu rumus 1/t (t menunjukkan suhu - Red.)."
"Nah, di ilmu sosial, jika kita menggambarkan grafik penduduk kota-kota, mulai dari yang terbanyak penduduknya hingga terkecil, juga akan menciptakan grafik seperti rumus 1/t di fisika. Ini menjadi bukti, berbagai data ilmu sosial dapat diaplikasikan ke dalam rumus-rumus fisika. Sekaligus menunjukkan, fisika punya banyak rumus dan model. Tapi kurang data seperti yang dimiliki ilmu ekonomi atau sosial," jelas Yo.
Bapak yang suka bermain dengan dua putrinya itu juga kerap berfisika ria dalam keluarga. Sampai-sampai, ada episode tertentu yang dihafal sang anak di luar kepala. Saat di atas kendaraan misalnya, Rebecca dan Marie sudah paham adanya dorongan ke arah berlawanan saat mobil hendak belok. "Namanya gaya sentrifugal, 'kan?" celetuk mereka. Marie bahkan punya lelucon yang pasti kurang nyambung dengan anak seusianya.
Kata bocah empat tahun itu, di dunia ini hanya ada tiga orang Marie yang pernah menerima hadiah Nobel. Yang pertama, Marie Curie, kemudian Marie Goepert Meyer. Yang ketiga? Ya, Marie Felicia, putrinya Yohanes Surya, he.. he.. he.... Sejatinya, hampir seluruh aktivitas santai Yo bersama keluarga memang berbau fisika. Tak heran kalau anaknya yang paling besar, Rebecca bercita-cita jadi fisikawati.
Buat Yo, dekat dengan anak-anak merupakan keharusan
"Mereka itu investasi buat masa depan. Di zaman mereka nanti, uang sekolah makin mahal. Kalau mereka pintar dan dapat beasiswa, 'kan meringankan beban?" Itu sebabnya, dia merasa lebih baik meluangkan waktu untuk anak-anak, ketimbang cari duit enggak karuan.
Omong-omong, tak adakah hal lain di benak Yo selain fisika dan fisika? Hmm, jawabnya tak kalah seram: matematika! Uniknya, penampilan Presiden Olimpiade Fisika Asia ini tak terlihat seperti ilmuwan yang kebanyakan bermain rumus, dengan ciri kepala botaknya. Yo tampak santai dan jauh lebih muda dari usianya. "Saya selalu berusaha hidup secukupnya. Tak mau memikirkan yang aneh-aneh. Paling penting, kalau kita banyak menolong sesama, bakal didoakan banyak orang," jelasnya.
Selain fisika dan matematika, Yo memang tak punya banyak hobi lain. Membaca bisa menenggelamkannya berjam-jam, di samping bermain sambil mengajari anak-anaknya fisika. Waktu luangnya, mulai pukul 21.00 - 01.00 digunakan untuk menulis buku dan artikel. Olahraganya hanya jalan kaki dari rumah ke kampus yang letaknya tak jauh. Waktu tidurnya rata-rata empat jam sehari. "Setiap pagi saya minum jus empat buah apel, plus segelas susu," tutur Yo.
Ia mengaku tak pernah makan suplemen untuk memperkuat otak. "Buat saya, otak itu seperti pisau, makin sering diasah, makin tajam." Membaca merupakan salah satu cara mengasah otak. Konon, Yo dapat "melumat" buku ratusan halaman berbahasa Inggris hanya dalam waktu empat jam!
Dengan dedikasi dan jasa demikian besar buat perkembangan ilmu fisika di Indonesia, keberatankah jika orang menjuluki Anda Bapak Fisika Indonesia? Yo cuma tertawa sembari menukas, "Janganlah. Itu terlalu tinggi. Saya hanya fasilitator. Saya cukup senang ada anak-anak yang mendapat emas, bahkan Nobel," bilangnya mantap. Yo mengaku menikmati betul posisi dan peran yang disandangnya kini. "Tiap orang harus punya kesadaran itu," tutupnya, sedikit berfilosofi.
Begitulah Yo. Seperti padi, tak pernah teriak-teriak meski setiap hari memberi makan separuh lebih penduduk Bumi.

Kasih seorang Papa untuk anaknya

Selama ini kita selalu menuliskan cerita cerita perjuangan seorang ibu untuk anaknya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
i love my DAD
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak kecil……
Papa biasanya mengajari buah hati kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut anak yang di sayanginya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu sikecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang pacar mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia….

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut…

Ketika melihat sikecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
“Bahwa sikecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi anak dewasa…

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka dan mainan baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “ sikecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang belahan jiwamu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu…..

Bahwa lelaki/wanita itulah yang akan menggantikan posisin dan perhatiannya nanti.

Dan akhirnya….
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang yang mengasihimu, Papa pun tersenyum bahagia….

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?


Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….
sikecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi seseoarang yang luar biasa….
Bahagiakanlah ia bersama pasangannya…”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….

Papa telah menyelesaikan tugasnya….
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal…

silakan di baca dan di renungkan ya..!!!

Papa ku memang kadang menjadi orang yang paling galak namun sekaligus yang paling hebat sedunia

Buat teman-teman yang hingga kini masih merasakan sosok ayah,
 katakan dalam hati "Tuhan, aku mohon bantulah Papa dalam setiap hembusan nafas dan keringatnya, biarkan Papa dapat selalu tersenyum dalam derita dan sakitnya hingga kelak dia melihatku menjadi anak yang berguna."
Papa terima kasih untuk semuanya....
yang telah kau berikan untukku dengan penuh cinta
hanya ini yang bisa ku ucapkan
tak mampu ku balas semua yang telah kau berikan
mengganti banyak tetes airmata yang terjatuh
membalut semua luka yang ada dalam hatimu
Semoga TUHAN membalas semua kebaikanmu.

Untuk seseorang yang pernah menangis kepada Tuhan agar
 penyakit anaknya pindah kepadanya.
Untuk seseorang yang bersusah payah menggendong
 anaknya yang sudah jauh lebih besar darinya
 saat anaknya tak bisa berjalan.
 Untuk seseorang yang selalu mengatakan betapa bangganya
 dia menjadi ayah bagi anaknya.
Untuk Papa, pahlawanku. Anakmu ingin menangis di pelukanmu sekarang...
Buat teman-teman yang sudah mau membaca  cerita ini...semoga makin


mengerti n menyayangi Papa thanks ya..




Jumat, 20 April 2012

Handphone China

Sepasang pemuda dan pemudi sedang berpacaran:

Cewek: "Say, seberapa besar cintamu padaku?"
Cowok: "Tentu saja sangat besar sekali sayang..."
Cewek: "Kalau diumpamain, seperti apa?"
Cowok: "Saking dekatnya kita, ibarat aku adalah handphone dan kamu simcardnya."
Cewek: "Makasih, Sayang..."
Cowok: (dalam hati) "Untung dia tidak tahu kalau aku ini handphone China, dengan tiga kartu..."


                                                   ---oo0oo---

Selasa, 17 April 2012

Jika Aku harus...

Jika aku harus berenang di laut untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, Aku akan belajar bagaimana berenang, dan aku akan mengarungi lautan itu. Jika aku harus mendaki gunung tertinggi untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, Aku akan belajar cara memanjat, dan aku akan memanjat gunung itu. Jika aku harus menyelam samudra terdalam untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, Maka aku akan belajar bagaimana cara menyelam, dan aku akan menyelami samudra itu. Jika aku kecewa karena hal-hal yang tidak tampak seperti yang aku inginkan, Maka aku akan belajar bagaimana menerimanya, dan aku akan mencoba untuk menerimanya. Setidaknya sekarang aku telah mengalami bagaimana berenang, mendaki dan menyelam dan juga bagaimana untuk menerima segala sesuatu yang berasal dari usahaku.. Kemudian, aku akan mencoba kembali untuk melakukan lebih baik. Demi apa yang aku inginkan… Aku akan datang.. dan mencapai semua itu... ----ooo0ooo----

Minggu, 15 April 2012

“Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?”...

     “Huuu….uuura!” Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut.

     Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok. Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota. Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport. Si Anak: “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?” Ibu: “Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!” Si Anak: “Tetapi kawan saya adalah seorang cacad, karena korban perang di Vietnam?” Ibu: “……oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacad?” – nada suaranya sudah agak menurun Si Anak: “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”

     Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah?”
Si Anak: “…tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!” Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: “Na…ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya!” Si Anak: “…tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!”
      Si Ibu: “Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacad dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.” Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.
     Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka.
     Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri.

     Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!

Surat dari Sherly

                                                       Andre dan Sherly adalah
sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Sherly berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Andre hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan. Dalam kehidupan mereka berdua, Andre sangat mencintai Sherly. 

     Andre telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Sherly dan Sherly kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Andre telah menuliskan harapannya kepada Sherly. Banyak sekali harapan yang telah Andre ungkapkan kepada Sherly. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi Sherly dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Sherly. Suatu hari Andre melipat burung kertasnya yang ke 1001. 
     Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Andre berkata kepada Sherly: “Sherly, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “ Saat mendengar Andre berkata demikian, menangislah Sherly. Ia berkata kepada Andre: “Ndre, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Andre pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Sherly. 
      Ia mengatai Sherly matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Dan Akhirnya Andre meninggalkan Sherly menangis seorang diri. Andre mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Sherly dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Andre menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. 
     Sekarang tak seorangpun tak kenal Andre, ia adalah bintang kesuksesan. Suatu hari Andre pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Andre pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Sherly. Andre mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Andre membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Sherly. Andre sangat terkejut ketika didapati orang tua Sherly memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Sherly dalam makam itu.
     Andre pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Sherly untuk menemui orang tua Sherly. Orang tua Sherly pun berkata kepada Andre: ”Ndre, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Sherly yang terkena kanker rahim ganas. Sherly menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua Sherly menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Andre. Andre membaca surat itu. “Ndre, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Ndre, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ndree……….. “ Setelah membaca surat itu, menangislah Andre. 

     Ia telah berprasangka terhadap Sherly begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati Sherly teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Sherly kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Sherly mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Sherly sebagai orang matre tak berperasan namun Sherly telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran. The inspired by the true story of my Friend.