Boleh
jadi ia menghayati betul "ilmu padi". Pria kelahiran
Jakarta, 6 November 1963, ini selalu cool dan rendah hati. Padahal,
ia tak ubahnya Einstein kelahiran Indonesia.
Suaranya
tipis, susunan kata-katanya selalu runtut. Ditambah kacamata minus
dan tubuh tinggi semampai, Yohanes Surya Ph.D. begitu pas dengan
predikatnya sebagai ilmuwan kawakan di negeri ini. Yo - begitu dia
biasa disapa - jelas bukan sembarang orang. Gelar S1 Fisika
diperolehnya dari FMIPA UI dengan predikat sangat memuaskan. Di usia
27 tahun, dia sudah meraih M.Sc. Fisika di College of William and
Mary, Virginia, AS. Empat tahun kemudian, gelar Ph.D. direngkuhnya
dari kampus yang sama. Hebatnya, dua gelar itu diembel-embeli
predikat cum laude!
Tak
kalah fenomenal, kiprahnya sebagai lokomotif Tim Olimpiade Fisika
Indonesia (TOFI). Dua tahun terakhir, prestasi TOFI sedang meroket.
Di Bali, Juli 2002, pada Olimpiade Fisika Internasional XXXIII TOFI
menyabet tiga emas (dari total 20 yang diperebutkan), satu perak, dan
satu perunggu. Sedangkan di Olimpiade Fisika Asia ke-4 di Bangkok,
April 2003, mereka menyabet enam emas dan dua honorable mention,
sekaligus "merampok" gelar juara umum!
Lucunya,
Yo sebenarnya masuk Jurusan Fisika karena terpaksa. "Saat itu
enggak ada pilihan lain," kata blasteran ayah Bandung dan ibu
Ciamis ini.
Gairah
turun naik
Ceritanya,
selepas SMA kondisi ekonomi keluarga Yo sangat memprihatinkan.
Ayahnya yang pensiunan tentara cuma punya warung kecil di Pulo
kambing, Jakarta Timur. Tak heran enam kakaknya terpaksa tidak
kuliah. Yo sendiri (anak ketujuh dari sembilan bersaudara) bisa
kuliah melalui jalur PMDK. Meski begitu, batin Yo muda belum
sepenuhnya gembira.
Bapaknya
bilang, sarjana fisika paling banter cuma bisa jadi dosen atau guru.
"Saya dari keluarga miskin. Kalau akhirnya jadi miskin juga,
'kan enggak ada perubahan," kenang Yo getir. Susahnya, tak ada
pilihan lain. Akhirnya, dibantu bea-siswa Supersemar, jadilah ia
mahasiswa UI.
Selama
kuliah, gairah belajar Yo agak kempes. "Habisnya, dari tahun ke
tahun, saya cuma ketemu rumus-rumus," imbuhnya diiringi tawa
renyah. Padahal, waktu di SMAN 12, pelajaran fisika menjadi cinta
pertamanya. "Pak Handoyo (mantan guru fisika Yo, kini almarhum -
Itox.) pintar menghubungkan berbagai gejala fisika dengan kejadian
sehari-hari," kenang suami Christina (34) serta ayah Chrisanthy
Rebecca (12) dan Marie Felicia (4) ini.
Walaupun
masa SMA lebih manis ketimbang jadi anak kampus, ia tetap lulus UI
dengan predikat "sangat memuaskan". Sempat menjadi guru SMA
selama dua tahun, pada 1988 Yo mendapat beasiswa S2 di College of
William & Mary.
Di
kampus baru ini, minat fisikanya mekar kembali. Kesempatan untuk
mempelajari intisari fisika, meneliti, dan membaca banyak buku
dimanfaatkan maksimal. Beberapa bulan kuliah, ia sudah dipekerjakan
sebagai teaching assistant. "Lumayan, saya jadi punya meja,"
ucapnya riang. Di negeri Paman Sam, ia juga sempat menjadi konsultan
theoretical physics di TJNAF/CEBAF (Continous Electron Beam
Accelerator Facility), Virginia.
Di
College of William & Mary pula, sekitar 1992, ia membaca
berita soal Olimpiade Fisika Internasional. "Kok Indonesia belum
pernah ikut, ya, padahal kegiatan itu sudah ada sejak 1967,"
batinnya bertanya. Segera Yo mengajak rekannya, Agus Ananda membidani
kelahiran Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Setelah diadakan seleksi di
UI, terpilih lima siswa yang akan di-training selama dua bulan di AS.
Pada
keikutsertaan pertama ini, kebetulan diselenggarakan di AS, tim
darurat bikinan Yo meraih satu perunggu. "Lumayan. Langsung
dapat medali," bilang penulis 68 buku (30 diantaranya sudah
diterbitkan). Sayang, pada tahun berikutnya di Cina, bertepatan
dengan kesibukan Yo mengerjakan tesis, Tim Indonesia pulang tanpa
membawa satu medali pun.
November
1994, Yo mendapat greencard untuk tinggal dan bekerja di
Amerika. Namun, mimpi mengharumkan nama bangsa lewat fisika terus
menggoda. "Saya merasa sangat terpanggil," ujarnya serius.
Tahun 1998 ia balik ke Tanah Air. "Sempat jadi calon PNS, yang
gajinya Rp 65.000,- sebulan. Buat taksi sekali jalan, dari rumah di
Bekasi ke Salemba dan Depok saja udah habis," kenang lelaki yang
kini tinggal di Lippo Karawaci, Tangerang itu.
Meski
menghadapi tantangan berat, kiprah Yo pantang surut. Pada Olimpiade
Fisika Internasional 1995 di Australia, anak-anak asuhnya
mempersembahkan satu perak. Pria yang mengaku menghabiskan Rp 40 juta
per tahun untuk membeli buku ini pun mulai yakin, datangnya medali
emas cuma soal waktu. Penyuka buku-buku fisika, ekonomi, sosial,
kependudukan, dan fiksi ilmiah ini juga mulai rajin menggugah
kepedulian Depdiknas.
Toh
hingga Olimpiade 1996 di Kanada dan 1997 di Norwegia, TOFI masih
berkutat pada raihan perak dan perunggu. Sedangkan 1998, aktivitas
terhenti sama sekali lantaran kerusuhan Mei yang meluluhlantakkan
Jakarta. "Banyak orang mulai mengejek, emasnya mana?"
sambung Yo lirih. Tahun 1999, ia mulai gemas, menantang Depdiknas
membiayai training anak-anak asuhnya selama tujuh bulan penuh.
Hasilnya
luar biasa, TOFI pulang menggondol satu emas, satu perak, dan dua
perunggu.
Sejak
itu, prestasi TOFI kian bersinar. Puncaknya, seperti disebut di muka
tadi. "Di Asia, kita berhasil menggeser Taiwan. Merekalah selama
ini saingan berat kita," papar Yo bangga.
Bapak
fisika Indonesia ?
Yo
adalah fisika. Begitu pasti komentar mereka yang dekat dengan
kolumnis di sejumlah media massa ini. Maklum, hampir seluruh umur
dosen Universitas Pelita Harapan, Karawaci, ini didedikasikan buat
ilmu fisika. Selain memotivasi masyarakat umum lewat media, Yo juga
menulis berbagai buku ringan untuk murid SD, SMP, dan SMU. Agar
fisika tak lagi dipandang sebagai zombie yang menakutkan. "Mereka
tak hanya mempelajari, tapi juga menikmati rumus-rumus," sambung
pengurus Himpunan Fisika Indonesia (HFI) ini.
Ia
bahkan sudah mempersiapkan sistem baku untuk menggembleng calon
fisikawan masa depan. "Siapa pun kelak yang menggantikan saya,
TOFI akan tetap mendapat emas," janjinya penuh semangat. Konon,
buku pegangan training untuk peserta olimpiade fisika itu disiapkan
selama 10 tahun. "Soal-soalnya selevel dengan apa yang
dipelajari di program S2," imbuh Yo.
Anggota
Dewan Kurator Museum Iptek TMII ini juga giat memperkaya pengetahuan
fisikanya. Kini ia tengah gandrung pada Fisika Keuangan, yang
menghubungkan fisika dengan ilmu ekonomi. Ilmu ini baru berkembang
tahun 1994. "Saya sendiri mulai tertarik sejak 2001," tegas
Yo. Salah satu manfaat yang ia temukan adalah rumus-rumus untuk
memprediksi fluktuasi harga saham, sekaligus memprakirakan trend
pasar modal.
Konon,
banyak yang bisa diotak-atik dari rumus-rumus fisika. "Misalnya,
formula Black & Scholes yang banyak digunakan dalam ilmu ekonomi,
ternyata sama dengan rumus perpindahan aliran panas di fisika,"
jelas Ketua Panitia Olimpiade Fisika Asia I tahun 2000 di Karawaci
ini. Masih kata Yo, sejatinya ilmu ekonomi memang banyak menggunakan
rumus fisika. Tapi para ekonom banyak yang enggak tahu dari mana asal
rumus itu.
Ilmu
Fisika juga bisa diaplikasikan pada ilmu sosial. "Air yang
dipanaskan, tekanannya meninggi. Pada saat itulah air berada pada
kondisi kritis. Kalau suhunya dinaikkan sedikit saja, langsung jadi
gas yang ringan sekali. Massa jenisnya mungkin hanya sekitar 0,01.
Tapi diturunkan sedikit, menjadi air yang massa jenisnya jauh lebih
besar. Jika digrafikkan, akan ketemu rumus 1/t (t menunjukkan suhu -
Red.)."
"Nah,
di ilmu sosial, jika kita menggambarkan grafik penduduk kota-kota,
mulai dari yang terbanyak penduduknya hingga terkecil, juga akan
menciptakan grafik seperti rumus 1/t di fisika. Ini menjadi bukti,
berbagai data ilmu sosial dapat diaplikasikan ke dalam rumus-rumus
fisika. Sekaligus menunjukkan, fisika punya banyak rumus dan model.
Tapi kurang data seperti yang dimiliki ilmu ekonomi atau sosial,"
jelas Yo.
Bapak
yang suka bermain dengan dua putrinya itu juga kerap berfisika ria
dalam keluarga. Sampai-sampai, ada episode tertentu yang dihafal sang
anak di luar kepala. Saat di atas kendaraan misalnya, Rebecca dan
Marie sudah paham adanya dorongan ke arah berlawanan saat mobil
hendak belok. "Namanya gaya sentrifugal, 'kan?" celetuk
mereka. Marie bahkan punya lelucon yang pasti kurang nyambung dengan
anak seusianya.
Kata
bocah empat tahun itu, di dunia ini hanya ada tiga orang Marie yang
pernah menerima hadiah Nobel. Yang pertama, Marie Curie, kemudian
Marie Goepert Meyer. Yang ketiga? Ya, Marie Felicia, putrinya Yohanes
Surya, he.. he.. he.... Sejatinya, hampir seluruh aktivitas santai Yo
bersama keluarga memang berbau fisika. Tak heran kalau anaknya yang
paling besar, Rebecca bercita-cita jadi fisikawati.
Buat
Yo, dekat dengan anak-anak merupakan keharusan
"Mereka
itu investasi buat masa depan. Di zaman mereka nanti, uang sekolah
makin mahal. Kalau mereka pintar dan dapat beasiswa, 'kan meringankan
beban?" Itu sebabnya, dia merasa lebih baik meluangkan waktu
untuk anak-anak, ketimbang cari duit enggak karuan.
Omong-omong,
tak adakah hal lain di benak Yo selain fisika dan fisika? Hmm,
jawabnya tak kalah seram: matematika! Uniknya, penampilan Presiden
Olimpiade Fisika Asia ini tak terlihat seperti ilmuwan yang
kebanyakan bermain rumus, dengan ciri kepala botaknya. Yo tampak
santai dan jauh lebih muda dari usianya. "Saya selalu berusaha
hidup secukupnya. Tak mau memikirkan yang aneh-aneh. Paling penting,
kalau kita banyak menolong sesama, bakal didoakan banyak orang,"
jelasnya.
Selain
fisika dan matematika, Yo memang tak punya banyak hobi lain. Membaca
bisa menenggelamkannya berjam-jam, di samping bermain sambil
mengajari anak-anaknya fisika. Waktu luangnya, mulai pukul 21.00 -
01.00 digunakan untuk menulis buku dan artikel. Olahraganya hanya
jalan kaki dari rumah ke kampus yang letaknya tak jauh. Waktu
tidurnya rata-rata empat jam sehari. "Setiap pagi saya minum jus
empat buah apel, plus segelas susu," tutur Yo.
Ia
mengaku tak pernah makan suplemen untuk memperkuat otak. "Buat
saya, otak itu seperti pisau, makin sering diasah, makin tajam."
Membaca merupakan salah satu cara mengasah otak. Konon, Yo dapat
"melumat" buku ratusan halaman berbahasa Inggris hanya
dalam waktu empat jam!
Dengan
dedikasi dan jasa demikian besar buat perkembangan ilmu fisika di
Indonesia, keberatankah jika orang menjuluki Anda Bapak Fisika
Indonesia? Yo cuma tertawa sembari menukas, "Janganlah. Itu
terlalu tinggi. Saya hanya fasilitator. Saya cukup senang ada
anak-anak yang mendapat emas, bahkan Nobel," bilangnya mantap.
Yo mengaku menikmati betul posisi dan peran yang disandangnya kini.
"Tiap orang harus punya kesadaran itu," tutupnya, sedikit
berfilosofi.
Begitulah
Yo. Seperti padi, tak pernah teriak-teriak meski setiap hari memberi
makan separuh lebih penduduk Bumi.













